BismIlahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang).
Melebu Allah..metu Allah (masuknya nafas karena Allah…keluarnya nafas karena Allah).
Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah).
Utek dunungno kodrate Allah (otak diletakkan atas kodrat Allah).
Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah (ya hu ... Allah ya hu ... Allah ya hu ... Allah).
Nabi Muhammad iku utusane Allah (nabi Muhammad itu rasullullah).
Artinya : (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra ini diperlukan penghayatan dan pendalaman makna yang
hakiki).
Masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah. Manusia hanya menerima dengan pasrah
atas kekuasaan Allah yang meliputi nafas. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaan dengan patuhnya
nafas tanpa kecuali (totalitas). Yang mengadakan hidup pada manusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana seluruh
makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan serta bumi, matahari semuanya bergerak dinamis atas sifat hidup
Allah (Al Hayyu). Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atas manusia, yang mana manusia diwajibkan berfikir
dan berkontemplasi untuk menyatakan sebagai wakil Allah (khalifah) maka dengan itu otak harus sesuai dengan
kehendak-kehendak Allah (perintah Allah). Wahai zat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa nabi
Muhammad itu Rasulullah.
Disini kita melihat sejarah manusia ketika menyikapi dirinya dalam pencarian diri sejati secara universal. Al Qur'an telah
memaparkan sebelum para pemikir barat memulai.Kesadaran Universal
Menghayati mulai dari kesadaran fisik sampai kepada kesadaran transendental dimana kesejatian manusia adalah
sesuatu yang bukan fisik. Dengan kesejatian inilah manusia menunaikan baktinya kepada Allah sebagaimana fitrahnya
(QS 30:30).
Al Qur'an telah banyak mengungkapkan tentang apa dan siapa manusia sebenarnya. Namun ungkapan ini tidak akan
menjadi suatu kesadaran apabila fikiran dan perasaan jiwa kita tidak pernah dibawa ke alamnya secara nyata, bukan
teori tasawuf yang sulit dimengerti. Kesadaran dimulai dengan yang sangat sederhana.
Adalah seorang bayi yang tiba-tiba lahir dengan proses alami. Ia lahir bukan karena permintaan dan kehendaknya. Ia
tidak mengerti untuk apa dilahirkan. Ia tidak punya apa-apa bahkan telanjang serta malupun tidak punya. Kemudian
sekelilingnya memberikan kesadaran secara bertahap. Mulai dari pemberian nama dan identitas kelamin, dan batasan
kesadaran yang sangat sempit. Ia dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya si Anu dan jenis kelaminnya laki-laki.
Diajarkannya pula nama-nama anggota tubuhnya, ini telinga, ini kepala, ini tangan, dan seterusnya.
Kesadaran ini membuat terikat kepada sebatas apa yang ia terima (ketahui). Sehingga sang diri terbelenggu dan
tersesat dalam ketidaktahuan siapa yang sebenarnya diri ini. Ada ungkapan rasullullah "barang siapa mencintai sesuatu
maka ia akan menjadi hambanya".
hemmm
BalasHapus